Home » » Kejam, Inilah 5 Pengkhianat Besar El Clasico

Kejam, Inilah 5 Pengkhianat Besar El Clasico


Sorotan terhadap laga El Clasico yang mempertemukan Real Madrid dan Barcelona tidak cuma karena catatan persaingan kedua tim yang telah saling bergesekan sejak lama, seperti yang terjadi dalam derby yang lain.

El Clasico semakin dinanti karena laga ini mempertemukan tidak hanya dua tim raksasa Spanyol, tapi juga Eropa. Selain itu, pertandingan ini juga akan menjadi ajang pertemuan dua pemain terbaik dunia saat ini, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. 

Namun jauh sebelum kelahiran dua peraih gelar Ballon d'Or tersebut, perseteruan Real Madrid dan Barcelona tak sekedar perebutan kemenangan di lapangan hijau. Madrid dan Barca adalah representasi ideologi yang dipegang erat para pendukungnya. 

Madrid adalah lambang kediktatoran Jenderal Francisco Franco yang saat itu menjadi penguasa Spanyol. Sementara Barcelona merupakan lambang pemberontakan masyarakat Catalan yang diberangus Franco. Rivalitas keduanya semakin meruncing tatkala Presiden FC Barcelona Josep Sunyol dibunuh kaki tangan Franco.

Latar belakang pedih itu terus diwariskan oleh para pendukung kedua tim. Kesetiaan adalah hal mutlak untuk menjadi fans kedua tim ini. Karenanya segala bentuk pengkhianatan tak bisa ditolerir. 

Meski demikian, kedua tim ini sebenarnya juga memberi tempat bagi tumbuhnya rasa khianat. Atas nama persaingan dan kemenangan, keduanya juga berduel berebut pemain hingga saling melakukan pembajakan. Berikut adalah lima pemain yang melakukan pengkhianatan kejam pada kedua tim. 




5. Luis Milla


Kepiawaian Luis Milla Aspas dalam mengontrol bola sehingga menjadi gelandang bertahan yang mumpuni tak lepas dari tangan dingin para pelatih di akademi Barcelona. Dari La Masia, ia beranjak ke Barcelona B hingga akhirnya bergabung ke tim utama Barcelona pada 1984.
Namun selisih paham dengan dewan direksi dan pelatih Johan Cruyff saat itu membuatnya tak mendapat perpanjangan kontrak. Geram dengan keputusan Barca, ia pun merapat ke Madrid dengan status bebas transfer. 
Jika di Barca ia menyumbang satu trofi La Liga, bersama El Real Luis Milla berhasil meraih dua trofi La Liga. 




4. Bernd Schuster


Pemain asal Jerman ini merupakan pimpinan lini tengah Barca pada periode 1980-an. keterampilannya membuatnya sukses mengantar Barcelona menjadi juara La Liga di musim 1984-1985. 2 gelar piala Liga dan runner up Liga Champions ikut menjadi sumbangsih Schuster pada El Barca. 

Hanya saja performa ciamiknya ini membuat Real Madrid ingin mendapatkan jasa Schuster. Hubungannya yang tak harmonis dengan Presiden Barca saat itu, Josep Lluis Nunez dan sejumlah pelatih dimanfaatkan El Real untuk membujuknya pindah haluan.

Pada 1988, Schuster telah berseragam Madrid. Ia memberi dua gelar La Liga, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol pada Los Blancos. Usai pensiun, pada 2007 Schuster menjadi pelatih Madrid, namun hanya bertahan satu musim. 




3. Luis Enrique


Luis Enrique telah mengenakan seragam Real Madrid selama lima musim saat mengetahui kontraknya tidak akan diperpanjang. Tanpa pikir panjang, atau justru dengan pertimbangan matang, Enrique melenggang ke Barcelona dengan status free transfer. 
Di laga El Clasico, ia mencatatkan namanya sebagai pemain yang mampu mengukir gol untuk kedua tim tersebut. 1 gol ia sumbangkan untuk El Real, sementara 4 gol untuk Barcelona.




2. Michael Laudrup


Setelah enam tahun membela Juventus, Laudrup memutuskan meninggalkan Italia dan bermain di Spanyol bersama Barcelona. Dibawah asuhan Johan Cruyff, sinar Laudrup semakin cemerlang. Ia menjadi salah satu pemain asing dari The Dream Team Barcelona selain Ronald Koeman dan Hristo Stoichkov. Kehebatan The Dream Team Barca itu disebut sebanding dengan kekuatan Ajax Amsterdam di era 1970-an. Laudrup turut memberikan sumbangsih saat Barca meraih gelar La Liga empat kali berturut-turut pada 1991 hingga 1994, Copa del Rey, serta Liga Champions.

Laudrup mulai disisihkan saat Barca merekrut Romario. Striker asal Brasil itu menjadi pilihan Cruyff saat Blaugrana tampil di final Liga Champions, menggeser Laudrup yang berujung kekalahan. Keputusan Cruyff ini berdampak panjang hingga Laudrup memutuskan hengkang ke Madrid pada 1995. 

Laudrup membantah kepergiannya itu sebagai bentuk balas dendam pada Barca. "Aku pindah ke Madrid karena klub ini sangat lapar akan kemenangan," katanya kala itu. Ditahun pertamanya bersama Madrid, Laudrup langsung mempersembakan gelar La Liga. Ia menjadi satu-satunya pemain yang meraih lima gelar juara La Liga berturut-turut dari dua klub berbeda. 




1. Luis Figo


Pengkhianatan Luis Figo masih terasa menyakitkan bagi para pendukung Barca hingga saat ini. Wajar saja karena setelah datang pertama kali ke Camp Nou pada 1995, ia menjadi pujaan dengan ban kapten di lengannya. Ia menyumbang gelar La Liga dan Winner Cup saat masih berseragam Blaugrana. Namun ia mengakhiri kebersamaan manisnya itu secara tiba-tiba dengan beralih ke Madrid.

Transfer Figo ke Real Madrid saat itu menjadi sorotan berbagai media, karena diembel-embeli transfer termahal di dunia. Hal ini membuatnya dicap sebagai pemain yang mata duitan oleh para fans Barcelona.

Cules murka saat Figo kembali ke Camp Nou dengan seragam Los Blancos. Ia dilempari uang koin sebagai sindiran mata duitan. Kepala Babi juga menghadangnya saat ia hendak mengeksekusi tendangan sudut. Bersama Madrid, Figo merengkuh gelar juara Piala Super Eropa dan Liga Champions.


Bagi pemain sepakbola bentuk profesionalitas adalah selalu memberikan yang terbaik bagi tim yang tengah ia bela, meskipun memiliki kenangan indah bersama tim lawan. Namun profesionalisme ini justru dicap sebagai sebuah pengkhianatan oleh klub dan para pendukungnya

10 Gol Krusial Terbaik Di Menit-Menit Akhir Pertandingan Sepakbola
5 Final Liga Champions Paling Dramatis yang Diakhiri Adu Penalti
5 Fakta Unik Sir Alex Ferguson yang Mungkin Belum Anda Ketahui

0 comments:

Post a Comment